Muse

05.00



Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Judul: Muse
Penulis: Devania Annesya
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer Sampul & ilustrasi: Dyndha Hanjani P.
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: PT Grasindo
Tahun terbit: 2014
Halam: 194 hal
ISBN: 978-602-251-747-4

Aku sahabat dari istrimu, tempat kau biasa mendiskusikan segala hal. Aku sahabat dari istrimu, tempat di mana kau selalu meminta nasihat dalam menghadapi kegilaan istrimu. Aku sahabat dari istrimu, dan aku jatuh cinta padamu.

Jonas Antariksa, penulis novel, suami dari Nadia dibuat pusing dengan surat cinta Renatha sahabat istrinya. Renatha yang dianggapnya sahabat jatuh cinta padanya. Ini gila.

Renatha seorang pramugari cantik yang memiliki darah Jerman hanya punya Nadia, sahabat yang dianggap sebagai keluarga. Ketika Nadia akhirnya menikah dengan Jonas, Renatha berusaha menerima segalanya. Toh Jonas sendiri tidak melarang Nadia hangout dengan Renatha. Sampai akhirnya Raisa lahir dan semua berubah.

Raisa dekat dengan Renatha, mereka sering berdongeng bersama. Awalnya Jonas senang karena mereka dekat, tapi lama-lama, Jonas dihinggapi rasa kecewa. Kenapa bukan Nadia yang dekat dengan Raisa, anaknya sendiri?

Nadia dulu pernah tinggal di panti asuhan lalu dia diadopsi. Nadia mungkin kebingungan, bagaimana mungkin dia menyayangi seorang anak kalau sejak kecil dia tidak pernah mendapatkannya?

Ketika masalah berlarut dan memuncak, semua menjadi kacau. Jonas mendatangi Renatha, menggantungkan harga dirinya. Harusnya Renatha senang, tapi yang terjadi malah sebaliknya.

Manusia 'kan memang seperti itu. Mereka suka menghakimi. Mungkin karena mereka merasa hidup mereka lebih baik jadi punya hak untuk menghakimi (Hal 77).

Membaca kisah ini seperti mengorek luka yang dialami seseorang di masa kanak-kanak. Orangtua yang dianggap bisa melindungi ternyata mereka berhenti saling mencintai. Jangan biarkan dia lahir dengan menanggung penderitaan atas kesalahan orang tuanya. Sebab itu akan sakit sekali. Sebab aku sebenarnya memilih untuk tidak dilahirkan ketimbang menerima nasib buruk (Hal 79).

Di dunia ini ada masalah yang tak bisa terpecahkan, masalah yang merupakan bagian dari takdir... (hal 93)

Kadang kita mencintai seseorang tanpa harus dia berubah. Karena hidup memang masalah, mungkin hannya butuh waktu yang tepat untuk menjadi lebih baik, memantaskan diri untuk masing-masing.

Ketika kita menikah, banyak hal yang harus kita damaikan termasuk masalalu. Mungkin masalalu dengan orang tua bukanlah hal yang indah. Anak tidak bisa memilih orangtua, tapi kita bisa memilih menjadi orangtua seperti apa kita.

Persudaraan tanpa iktan darah kadang bisa menjadi sedemikian kokok. Takdir. Jodoh. Apa pun itu namanya. Tak seorang manusia pun bisa menjelaskannya (Hal 168).

Saya percaya di dunia ini ada persahabatan yang indah. Renatha dan Nadia membuktikannya. Ketika kamu mencintai seseorang dan melakukan apa pun demi mereka. Itu bukanlah beban. Itu semacam bukti cinta tanpa harus banyak bicara.

Baca juga:
http://jiahjava.blogspot.in/2013/09/flames-to-dust.html

You Might Also Like

0 komentar

Komentar, yuk!