Balada si Roy 3 : Blue Ransel, Solidarnos

05.00


Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Judul: Balada si Roy 3 : Blue Ransel, Solidarnos
Penulis: Gol A Gong
Sampul: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 200
Tahun Terbit: Cetakan ulang, November 2012
ISBN: 978-979-22-9030-1

"... Perasaan-perasaan negatif semacam itu bakal mengganggu keyakinan kita yang udah dari semula optimis. Kalau lantas pesimis, lha buat apa nyape-nyape nyari?" (Hal 41)

Terus terang saja Balada si Roy saya baru baca dan langsung masuk buku ke-3. Dalam buku ini ada dua bagian. Satu, Blue Ransel. Dua, Solidarnos.

Blue Ransel, menceritakan si Roy avonturir dengan ransel birunya. Saya menyebutnya petualangan yang tidak disengaja.

Setelah turun dari truk dan masuk monumen Palagan, si Roy bertemu dengan seorang gadis bernama Iis. Iis menuju Semarang, Roy juga. Mereka akrab sampai-sampai Iis menceritakan kisah kehidupannya karena melihat Roy seperti pacarnya. Di tengah jalan, Roy keluar dari bus sebentar. Sayang waktu kembali busnya sudah tidak ada. Sialnya, ransel birunya ada di dalam bus bersama Iis.

Petualang mencari ransel birunya dimulai. Roy yang berlarian masuk kereta gara-gara surat misterius pembawa ranselnya sampai akting tidak penting. Cerita di masjid, ikut kondangan di Bali sampai bermain di pulau.

Setiap bagian memiliki kisah yang bisa diambil hikmahnya. Hingga akhirnya Roy pulang. Dalam perjalanan pulang pun banyak kejadian yang tak dapat Roy lupakan.

Saya jadi berpikir, betapa gilanya menjadi avonturir. Bebas melalang buana. Sayangnya ya itu, saya perempuan, tak bisa sebebas Roy.

Solidarnos adalah cerita setelah Roy berpetualang, kembali ke rumah, kembali sekolah.

Solidaritas Roy dengan sahabatnya patut diacungi jempol. Selain itu, ada nyempil cerita pedekate si Roy dengan si Manis, Suci. Si Roy yang seperti dikerjai Suci sampai bertemu dengan gadis coklat.

Apa yang kita rasakan kalau sudah diungkapkan akan terasa lega. Itulah yang Roy rasakan pada Suci. Tak perlu dapat balasan, asal terungkap saja sudah cukup.

Sebandel-bandelnya si Roy, dia tetap sayang dengan keluarganya, adik dan Mamanya. Roy juga ingat sekolah walaupun kadang bolos juga.

"Sebetulnya yang paling membahagiakan orangtua adalah anak-anaknya selalu berada di dekatnya. Tapi, untuk sekarang itu malah bisa membuat anak-anaknya tidak maju." (Hal 185)

Saya suka karakter Mama Roy yang terbuka. Walaupun berat, beliau mendukung Roy. Dukungan itulah yang penting bagi seorang anak. Segila apa pun anak, mereka pasti membutuhkan dorongan positif.

Catatan:
1. Kata stil di hal 62, sepertinya bahasa Inggris.
2. Aja di hal 95, harusnya saja karena bukan dialog.
3. Saya dan aku dalam satu dialog di hal 129.
4. Kurang petik tutup di hal 79, 147, 169 dan 185.
5. Blurb di buku ke-3 ini agak kurang nyambung. Roy yang suka Ani, tapi tak ada Ani di buku ini.


"... Malam takbiran adalah puncak kemenangan dari menahan lapar, haus dan hawa nafsu." (Hal 186)

"Tapi malah kadang kala malam takbiran ini suka juga disalahgunakan oleh anak-anak badung. Mereka terlalu berlebihan meluapkan kegembiraan. Bau alkohol atau derum mesin motor jadi penghias. Lantas apalah artinya puasa sebulan kalau pada akhirnya mengumbar nafsu?" (Hal 186)

Sepertinya saya perlu berburu Balada si Roy lainnya untuk melihat endingnya.


You Might Also Like

0 komentar

Komentar, yuk!