Muara Rasa

17.36

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Judul: Muara Rasa
Penulis: Devania Annesya
Penyunting naskah: Katrine Gabby Kusuma
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Ice Cube
Halaman: 186
ISBN: 978-979-91-0857-9
Rating: 4,5

Rumah belum tentu adalah bangunan tempat bagi segala rasa bermuara. Rumah bisa jadi hanya sebuah bangunan yang diberi label 'Rumah'. (Hal 52)

Foto kiriman Jiah Al Jafara (@jiahjava) pada


Hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan seringkali tidak berjalan mulus. Flo dan Rafi sahabat Val memutuskan pulang ke Surabaya untuk berkumpul setelah mereka terpisah untuk kuliah.

Pulang harusnya bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tapi saat mereka saling mencintai secara diam-diam, bagaimana akhir dari persahabatan mereka? Mereka yang jatuh bangun karena kehilangan dan saling menguatkan, haruskah terpisah karena cinta yang tak terbalas?

***

Spoiler dikit nggak papa yaaa. Habisnya saya masih agak sebel karena tiap baca novelnya Mbak Nesya selalu nangis. Mungkin hatiku terlalu rapuh sampai cerita yang disampaikan selalu bikin nangis tengah malam. Yaa karena saya bacanya malam-malam.

Saya masih ingat, novel ini sebelumnya dibuat novelet dan saya sudah baca. Waktu bergosip dan akhirnya terpilih di Ice Cube dan gabung sama seri Yarn lainnya setahun lalu, ikut hahahihi dong ya. Apalagi promonya Mbak Nesya, ada adegan balapan pipis antara Val dan Ravi. Naaa kan bikin penisirin.

Novel ini bercerita tentang persahabatan, persaudaraan, dan juga hubungan orangtua dan anak. Mereka bertiga bukan dari keluarga yang sempurna, tapi mereka saling menguatkan saat kehilangan.

Maju mundur cantik, alur yang selalu dipakai Mbak Nesya. Tenang, nggak bikin bingung soalnya bertanggal dan sesuai usia mereka.

Flo, Val, Ravi, James kembaran Ravi, Elvira, Karen, nama-nama tokoh dalam novel ini. Yang paling saya suka si Ravi, biar slengekan, nggak pinter, tapi mempesona. Flo, cewek yang cuek, sok kuat, tahan bener nahan cinta dalam hati. Val, penyayang, sabar, big brother.

Ini bukan melulu soal cinta, tapi hubungan yang saling merelakan, ikhlas. Kenyamanan yang nggak bisa digantikan.

Saya suka adegan drama-dramaan si Flo dan Ravi. Ada gitu orang yang lebay pake acara teraniaya sepi, hihihi. Tapi itu rada kaya obrolan gaje saya sama Mbak Nesya sih, bahahaha.

Harapan itu boleh, tapi jangan berlebihan, dan sampai terobsesi. Ada kalanya Tuhan tidak mengabulkan apa yang sangat kita inginkan bukan karena tidak sayang, tapi justru karena mengajarkan kita untuk bersabar, ikhlas.

Novel ini sangat layak untuk dibaca. Bukan karena yang nulis itu saya kenal ya, tapi karena banyak hal yang bisa kita petik di dalamnya.

"Cinta itu menyakitkan. Apalagi kalau orang yang kamu sukai tidak balas menyukaimu." (Hal 27)

"Setiap rasa membutuhkan muaranya. Jika tidak diungkapkan, barangkali manusia harus menangggung beban itu seumur hidup." (Hal 110)

"Maaf, aku sudah menjadi sangat serakah. Aku pikir aku begitu hebat. Tapi aku salah. Aku kalah." (Hal 129)

"Pada akhinya manusia akan bermuara di temoat yang sana.
Jiwa-jiwa yang dituakan kehidupan.
Kedewasaan, atau proses menurunkan dinding ego.
Jiwa-jiwa yang sebelumnya mengelak dari kenyataan.
Jiwa-jiwa yang menguat seiring luka yang berlalu.
Pada akhirnya manusia akan bermuara di temoat yang sama.
Berdiri di tanah yang sama.
Pada akhirnya manusia akan bermuara di tempat yang sama.
Sejauh apa pun dia lari. (Hal 171)

Ditinggalkan memang sakit. Kadang, kita menyalahkan orang lain untuk menutupi rasa sakit itu. Mungkin saat itu kita hanya belum terbiasa, itu saja.

Semoga kita akan menemukan tempat pulang, tempat hati bermuara.

Sampai jumpa. Happy blogging!

You Might Also Like

3 komentar

  1. Jadi, kalau suka sama orang harus diungkapin ya, Jiah? :D
    Aku belum baca bukunya Nesya nih, kapan2 deh nyari bukunya.

    BalasHapus
  2. aku baru baca kok jadi baper...*ingat masa lalu..pedih..

    BalasHapus
  3. masukin ke goodreads dong cintaku... :*

    BalasHapus

Komentar, yuk!