Remedy

07.06

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Judul: Remedy
Penulis: Biondy Alfian
Penyunting naskah: Katrine Gabby Kusuma
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Ice Cube
Halaman: 209
ISBN: 978-979-91-0857-9
Rating: 3

Navin Naftali menginginkan kehidupan dan identitas yang baru untuk melepaskan masa lalunya. Sayang saat baru memulai semuanya, dia kehilangan dompet di mana ada 2 KTP miliknya. Was-was menghampiri Navin. Bagaimana kalau ada yang tahu identitasnya?

Foto kiriman Jiah Al Jafara (@jiahjava) pada

Di tengah kebingungan, tiba-tiba dompet Navin sudah kembali ke bangkunya. Navin mencari tahu dan menemukan Tania sebagai penemu dompet itu. Tania ingin tahu siapa Navin sebenarnya, tapi Navin belum bisa menjawab. Apakah Tania akan membongkar rahasia Navin? Atau justru sebaliknya?

***

Setelah All I (N)ever Wanted dan Muara Rasa, seri yarn lain dari Ice Cube yang akhirnya saya baca adalah Remedy.

Pertama kali baca judulnya, saya berpikir tentang remidial saat sekolah. Waktu kelas X, saya sempat menyesal gara-gara nggak remidi Kimia. Aneh kan? Soalnya untuk perbaikan pelajaran itu, teman saya pada ngafalin urutan unsur. Gara-gara itu, saya malah paling dodol karena nggak hafal urutannya.

Kembali ke Remedy. Novel ini bercerita tentang perbaikan dari dua tokoh yaitu Navin dan Tania. Mereka sama-sama punya masa lalu dan sedang belajar untuk percaya. Ya akhirnya mereka berteman.

"Terkadang tidak melakukan apa-apa justru membantu. Cukup dengan menjadi temannya saja." (Hal 137)

Di awal sampai tengah, saya geregetan. Ini Tania kenapa kok hobi ngiris lengan? Kenapa nggak mau pulang ke rumah? Dan Navin, kenapa ih susah banget bilang masa lalunya? Kok pergi ke psikiater mulu?

Oh akhirnya setelah agak curiga sama si Navin, tahu juga saya. Tapi kemudia bengong sendiri waktu tahu masalah Tania. Apakah itu? Baca sendiri!

Entah kenapa untuk pemilihan PoV saya kurang suka. Bukan karena bingung, tapi mungkin lebih enak baca dari sudut pandang orang ketiga serba tahu.

Saya merasa sedih sih dengan permasalahan dua tokoh ini tapi memang nggak sampai nangis. Menjadi korban bullying itu bener-bener bikin nyesek. Dan ada juga warning buat orangtua agar nggak nekan anaknya. Jika mereka nggak kuat, bisa depresi dan mungkin akan bunuh diri.

Siapapun kita berhak untuk menemukan kehidupan yang baru. Perbaikan dari setiap masa lalu agar tidak kembali terjerembab ke jalan yang salah. Dan semua itu jelas dimulai dari diri kita sendiri.

Perbaikan bukan berarti bodoh. Adakalanya kita butuh perbaikan daripada ikut naik ke kelas yang lebih tapi nggak tahu apa-apa.

Sampai jumpa. Happy blogging!

You Might Also Like

0 komentar

Komentar, yuk!