Sabtu Bersama Bapak

19.25

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Penulis: Adhitya Mulya
Penyunting: Resita Wahyu Febriratri
Penerbit: GagasMedia
Tahun terbit: 2014
Halaman: 278
ISBN: 979-780-721-5
Rate: 4

"Terima saya, jika kamu lihat bahwa saya adalah perhiasan dunia dan akhirat yang baik untuk kamu. Karena kamu adalah perhiasan dunia dan akhirat untuk saya." 

"Kenapa bisa bilang begitu?"

"Kamu pintar. That goes without question. Kamu cantik. Itu jelas."

"Itu semua dunia,"

"Dan karena pada waktunya, saya selalu lihat sepatu kamu di musala perempuan."

Foto kiriman Jiah Al Jafara (@jiahjava) pada



***

Baca buku yang difilmkan itu bikin penasaran. Mau bandingin sih, tapi saya belum nonton filmnya, hihihi. Buku ini sebenarnya saya pilih random saat di perpusda. Ada satu di rak fiksi. Yuk bawa pulang saja.

Sabtu Bersama Bapak bercerita tentang keluarga Garnida. Gunawan, Bapak dari Satya dan Cakra serta suami Itje, yang divonis kanker oleh dokter dan hanya bisa hidup selama satu tahun. Pak Gunawan lalu mencari cara agar anak-anaknya tetap bisa tumbuh dengan kehadirannya walau di alam yang berbeda.

Dengan handycam Gunawan membuat banyak video, berbagai kisah, cerita yang akan diputar pada hari Sabtu. Jika anak-anak lain pergi berkencan, maka Satya dan Cakra akan duduk manis menonton video. Mereka menyebut itu Sabtu Bersama Bapak.

Harusnya dalam sebuah novel itu ada klimaks dari sebuah masalah. Tapi di novel ini, saya tak menemukan itu. Ada masalah, tapi menurut saya bukan sebuah puncak. Over all, saya sangat-sangat menikmati cerita yang disajikan.

Bapak bagi Satya, Cakra dan Itje sangat berarti baik saat hidup maupun setelah meninggal. Dari video-video Gunawan dibuat semacam rujukan saat Cakra mencari jodoh, Satya menjadi Bapak yang hangat dan Itje yang tetap survive saat menjadi tulang punggung keluarga. Novel ini bukan hanya tentang hubungan Bapak ke anak tapi lebih. Hubungan suami istri, Ibu ke anak, komplit lah. Dan di sini juga banyak pengingat tentang rencana-rencana yang harus kita buat untuk menghadapi hari esok.

Membosankan? Tidak sama sekali. Ada bagian yang bikin geli karena kejombloan seorang Cakra. Ada gitu seorang bos yang 'dikerjai' anak buahnya. Tapi si Saka, panggilan kecil Cakra, punya sebab musabab kenapa dia masih jomblo diusia 30 tahun. Ada Rissa, istri Satya yang kadang suka drama sama anak-anaknya.

Serius, buku ini layak banget buat dibaca. Bintang empat deh. Saya cuplikin deh kalimat-kalimat yang menurut saya oke punya.

"Istri yang baik nggak akan keberatan diajak melarat. Suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat." (Hal 17)

"Bukan berarti seseorang harus kaya dulu sebelum menikah. Tapi kalian harus punya rencana. Punya persiapan." (Hal 21)

"Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnta dan si bungsu tidak belajar tanggung jawab dengan cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang srbaiknya semua manusia lakukan." (Hal 104/105)

"Akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar, lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya, kalian nggak punya pilihan selain melawan, dan menang. Jadi kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri." (Hal 130/131)

"Bermimpilah setinggi mungkin, rencanakan dengan baik. Rajin dan tidak menyerah. Tapi mimpi tanpa rencana dan action, hanya akan membuat anak istri kalian lapar." (Hal 151)

"Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling mengisi kelemahan. Setiap orang sebenarnya wajib menguatkan agama. Terkepas dari siapa pun jodohnya." (Hal 217)

"Istri yang menolak suami untuk berbakti kepada orangtua itu salah. Karena bakti pertama suami kan tetap kepada orangtua mereka." (Hal 224)

"Laki atau perempuan yang baik itu nggak bikin pasangannya cemburu. Laki atau perempuan yang baik itu... bikin orang lain cemburu sama pasangannya." (Hal 227/228)

Tambahan sedikit. Ada contoh mimpi di halaman 150 tentang iPod di mana waktu perekaman tahun 1992. Padahal tahun segitu belum ada iPod. Itu saja sih kurangnya.

Sampai jumpa! Happy blogging!

You Might Also Like

5 komentar

  1. Aku kayaknya pernah bikin review buku ini. Percakapannya sering bikin senyum2 ya, hehehe

    BalasHapus
  2. aku jadi penasaran sama buunya...plus filmya juga..

    BalasHapus
  3. buku ini keren banget, meski ada guyonan khas kang adit. :D katanya filmnya agak beda ama buku, Jiah. yang bagian surat Rissa ke Satya diilangin. cuma aku juga belum nonton. :D

    BalasHapus
  4. belum baca buku ini dan belum tertarik buat nonton filmnya (soalnya ada Acha di film itu)..

    karena saya gak suka dicemburui, saya suka deh sama quote terakhir itu :)

    BalasHapus
  5. Buku ini menurutku layak dibaca. Bagus banget. Banyak pesan yang bisa direnungkan.
    Hanya saja, sosok bapak terlalu perfect. Memang sih, tujuannya membuat video untuk anak-anaknya agar masih ada sosok bapak yang akan menuntun mereka. Dan kurang greget (klimaks) ya.

    BalasHapus

Komentar, yuk!