Sang Patriot (Book 1 of 3)

23.06

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Penulis: Irma Devita
Ilustrator dan Desain sampul: Aan Budi Sulistyo
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Penerbit Inti Dinamika Publishers
Halaman: 66
ISBN: 978-602-14969-1-6
Rating: 3,5

Kenang-kenangan dari:
Keluarga Besar
Alm. Letkol (Inf.) Mochammad Sroedji
(Tidak untuk diperjual-belikan)



Mengapa kalian mesti takut? Kalian hanya diminta memilih satu diantara dua kebaikan, maju perang lalu menang, atau gugur sebagai syuhada peraih surga yang Allah janjikan. Saat jiwa kalian melayang, beribu-ribu malaikat akan bersuka cita menyambut."

Berapa banyak pahlawan yang kita kenal dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia? Bung Karno, Bung Hatta, atau malah Pak Harto? Bagaimana dengan Letkol (Inf) Moch Sroedji? Letkol dr. RM Soebandi?


Terus terang saya pribadi enggak hafal para pahlawan yang memperjuangkan bangsa ini hingga terbebas dari penjajahan jaman bahula. Mungkin karena keluarga saya hanya rakyat biasa yang mungkin berjuang sesuai instruksi komandan. Beda halnya jika salah satu keluarga menjadi tentara atau mungkin jendral dalam perang. Contohnya nih Mbak Irma Devita.

Untuk mengenang perjuangan Kakeknya, Mbak Irma membuat komik perjuangan. Jika pelajaran di sekolah banyak membahas Rengas Dengklok, para petinggi yang ada di Ibukota, di komik ini lebih banyak ke daerahnya terutama Jawa Timur.

Diceritakan bahwa Letkol (Inf) Moch Sroedji ini lahir di Madura dan memiliki keinginan sangat besar untuk belajar. Bapak beliau maunya ya anaknya pintar ngaji, jadi Kyai. Tapi Letkol satu ini mau sekolah saja. Beliau kemudian lulus HIS (Holland Inlandsche School) kemudian melanjutkan sekolah teknik Ambachtsleergang. Suer lidah saya kesrimpet karena coba baca nama sekolahnya, wahaha. Tahun 1938, beliau bekerja sebagai mantri di RS Kreongan Jember.

Sebelum berjuang sampai tumpah darah penghabisan, kita akan disuguhi kisah cinta Letkol (Inf) Moch Sroedji dengan Mas Roro Rukmini. Nah entah mengapa, saya senyam senyum sendiri. Duh orang dulu emang begitu ya?! Intinya mereka resmi nikah. Kehidupan rumah tangganya juga berjalan harmonis.

Lha di mana perjuangannya, Ji?

Masih ingat kapan Jepang ke Indonesia? Maret 1942 mereka sok datang membebaskan kita dari penjajah Belanda. Bung Karno, Bung Hatta, Gatot (tidak pakai Aa) Mangkoepradja berunding tentang kekalahan perang yang diderita bangsa dan mengajukan dibentuknya Peta (Pembela Tanah Air) yang kemudian disahkan pada 3 Oktober 1943 dengan pusat pelatihan di Bogor. Akhirnya Letkol (Inf) Moch Sroedji ikut deh pelatihan Peta.

Dalam pelatihan, beliau benar-benar digembleng sampai babak belur juga. Latihan tentara Jepang seperti tak berperikemanusiaan. Tapi, dari sini beliau jadi strong baik jiwa maupun raga. Setelah mengikuti pelatihan, mereka dipulangkan ke daerah masing-masing lalu merekrut pemuda-pemuda untuk dilatih.

Dalam perjalanannya, Jepang enggak sebaik di awal. Mereka menyiksa rakyat dan banyak yang mati akibat kerja rodi. Ya udah, mulai perlawanan je sana sini hingga akhirnya merdeka. Setelah merdeka pun, masih ada cobaan dari NICA. Perjuangan memang belum berakhir.

Bahas sejarah itu ngeri-ngeri sedap. Saya pribadi suka dengan komik karya Mbak Irma ini. Kita bisa belajar cerita perjuangan dengan gambar-gambar. Enggak bikin bosan karena lihat ilustrasi ceritanya.

Komik ini ada tiga dan dibagian satu ini berakhir di pelarian Rukmini dalam kondisi hamil tua agar tidak ditemukan penjajah. Tunggu review saya selanjutnya, ya!

"Perang terbesar bukanlah melawan musuh. Perang paling besar adalah perang melawan diri kita sendiri. Kita harus punya satu tekad baja. Kita harus kalahkan dulu diri kita baru bisa mengalahkan musuh." (Hal 27)

Sampai jumpa. Happy blogging!

You Might Also Like

0 komentar

Komentar, yuk!